Purbalingga, 10/7 (ANTARA) - Tim gabungan yang terdiri sejumlah dosen Fakultas Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB) kembali meneliti artefak batu prasejarah di sepanjang Sungai Klawing, Purbalingga, Jawa Tengah, Jumat (10/7)-Sabtu (11/7).



Tim yang terdiri 12 orang tersebut berusaha mengungkap misteri artefak batu prasejarah dan batu mulia "Le Sang Du Christ" yang ditemukan di sepanjang sungai itu.

"Penelitian ini merupakan lanjutan dari kegiatan kami yang telah dilakukan sebelumnya," kata Sudjatmiko, salah satu dosen Fakultas Geologi ITB dan dosen luar biasa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto yang tergabung dalam tim tersebut.

Menurut dia, dalam kegiatan yang dilakukan bersama mahasiswa Unsoed pertengahan Juni lalu, menemukan artefak batu prasejarah dan batu mulia "Le Sang Du Christ" serta batuan panca warna di sepanjang Sungai Klawing.

Ia mengatakan, batuan yang ditemukan merupakan jenis batu mulai berkualitas tinggi dan banyak diburu penggemar batu.

"Batu panca warna ini memiliki keistimewaan pada kualitas polesnya yang bagaikan cermin. Ciri polesan ini merupakan ciri dari batu mulia 'high quality' (kualitas tinggi)," katanya.

Menurut dia, pada batuan panca warna yang termasuk dalam jenis jasper hijau Klawing, di bagian dalamnya tampak bercak-bercak seperti tetesan atau cipratan darah.

Jika dilihat lebih ke dalam lagi, kata dia, bercak-bercaknya menyatu bagaikan awan kumulus dengan corak memikat dan warna beragam antara lain coklat, kuning, merah, hijau, biru, dan putih.

Selain itu, lanjutnya, batu hijau Klawing tampak dilengkapi dengan hiasan mineral berwarna putih kehijauan yang memancarkan keindahan seperti sinar mentari.

"Mineral yang memancar ini ternyata sangat reaktif dengan HCl sehingga susunan kimianya dari keluarga besar karbonat. Selain itu,mineral ini tergores oleh mineral fluorit yang kekerasannya hanya empat skala Mohs," katanya.

Meski belum sempat menguji berat jenisnya, dia mengaku sudah bisa memprediksi bahwa mineral berstruktur radial tersebut adalah mineral keluarga karbonat jenis Aragonite.

"Mineral Aragonite semacam ini pernah ditemukan oleh KRCB di Singajaya, Garut, dalam urat-urat jasper berwarna merah dan hijau," kata Sujatmiko.

Ia mengatakan, hasil uji gemologi terhadap mineral berwarna hijau yang menyelimuti mineral radial Aragonite ternyata bukan jenis jasper hijau melainkan kalsedon hijau.

Menurut dia, hal ini dibuktikan oleh sifat tembus cahayanya terhadap potongan setebal 2 milimeter yang kemudian dibuat batu permata berbentuk kabocon ternyata tembus cahaya.

"Batu mulia jenis jasper prinsipnya tidak tembus cahaya. Jika diuji dengan alat refraktometer, hasilnya sungguh menggembirakan karena nilai indek refraksinya sama dengan yang dimiliki Chrysoprase atau Krisopras yaitu sekitar 1,530-1,534," katanya.

Dengan demikian, kata dia, batuan tersebut memiliki nilai komersial lebih tinggi dari sekadar jasper. (U.PK-SMT/B/S006/S006) s