Klaten, 23/11 (ANTARA) - Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Bibit Waluyo mengatakan, pihaknya akan terus meningkatkan pembudidayaan perikanan dan menjadikan Jateng sebagai daerah penghasil ikan nila varietas jenis unggul.

"Kami terus melakukan peningkatan budidaya perikanan dengan mengembangkan wilayah minapolitan. Setelah itu, benih ikan akan ditebarkan di seluruh sungai di Jateng agar masyarakatnya lebih sejahtera," kata Bibit Waluyo di sela acara pelepasan varietas unggul ikan nila di Desa Janti, Polanharjo, Kabupaten Klaten, Senin.

Menurut Gubernur, ikan nila varietas unggul tersebut akan disebar ke sungai-sungai agar penuh dengan nila. Masyarakat yang tidak mampu membeli ikan dapat mengambil cukup dengan mengail sehingga kebutuhan protein rakyat akan tercukupi.

Terbentuk kawasan ikan tersebut, kata Gubernur, akan dijadikan kampung nila atau minapolitan dan mengantarkan daerah itu kepada produsen terbesar di Jateng dengan komoditasnya.

"Kampung Gurameh di Banyumas, Kampung rumput laut di Brebes, Kampung Lele di Boyolali, Polanharjo dijadikan Kecamatan Nila dan tahun 2010 akan ada Kabupaten Paten di Jateng," kata Bibit.

Dengan demikian, kata Gubernur, budidaya ikan menjadi mata pencarian utama di daerah pedesaan di Jateng. "Kalau dulu di Jateng ada Minapadi, yakni antara ikan dan tanaman padi jadi satu. Tapi, karena banyak mengaduk zat kimia ikan banyak yang mati".

Namun, kata Gubernur, untuk menunjang di kawasan tersebut diperlukan induk ikan yang bermutu seperti adanya penemuan jenis nila baru asal Polanharjo yang diberi nama nila Larasati. Sedangkan, dari balai riset perikanan Bogor menghasilkan ikan nila varietas unggul yang diberi nama Best.

"Dua ikan nila jenis unggul itu, yang akan dikembangkan di Jateng sehingga dapat menjamin keamanan pangan di wilayah ini," katanya.

Gubernur menjelaskan, terkonsentrasinya daerah penangkapan ikan di kawasan pantai utara di Jateng mengakibatkan pertanyaan yang sangat tinggi untuk mendapatkan ikan. Hal itu, berpotensi rawan konflik antara nelayan tradisional karena perebutan wilayah penangkapan ikan.

Selain itu, nelayan juga kurang menjaga kelestarian alam laut akibat cara penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan.

Oleh karena itu, menurut Gubernur, perlunya dilakukan langkah strategis dalam upaya meningkatkan kesejahteraan para nelayan dengan tetap menjaga kelestarian sumber daya ikan berupa listrikisasi armada penangkapan ikan. Yakni dengan mengubah mesin tempel kapal dari 10 gross ton (GT) menjadi 30 GT.

Untuk itu, Gubernur meminta kepada pemerintah pusat untuk membantu para nelayan tersebut agar dapat tangkapan ikan produktif sehingga nilai kehidupannya meningkat.

"Kami sudah mengajukan batuan ke pusat sebanyak 10 unit armada untuk 2010 dan tahun berikutnya 20 unit," katanya.