Magelang, 11/6 (ANTARA) - Para petani organik anggota Gabungan Kelompok Tani "Permatasari" Desa Tirtosari, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, kewalahan memenuhi permintaan konsumen atas beras bebas bahan kimia dan ramah lingkungan produksi daerah itu.

"Permintaan konsumen belum bisa kami penuhi semuanya," kata Ketua Gapoktan "Permatasari", Wartono, ketika menerima kunjungan Wakil Menteri Pertanian, Bayu Krisnamurthi, di Magelang, Jumat.

Gapoktan itu kini memiliki 72 anggota dengan total lahan sawah yang dikelola secara organik sekitar 50 hektare.

Setiap bulan, katanya, petani setempat memproduksi sekitar dua ton beras, sedangkan permintaan konsumen hingga saat ini mencapai sekitar 3,5 ton.

"Permintaan terus bertambah," katanya.

Ia mengatakan, harga beras organik saat ini delapan ribu rupiah per kilogram atau lebih tinggi ketimbang harga beras biasa yang sekitar Rp5.500 per kilogram.

Pihaknya hingga saat ini terus berupaya mengajak petani lainnya menerapkan sistem pertanian organik yang ramah lingkungan dengan penggunaan pupuk organik.

Pada kesempatan itu, Banyu menyampaikan apresiasi kepada petani organik setempat karena mampu menghasilkan produk pertanian yang unggul secara mandiri.

"Produksi mereka yang khusus ini bisa meningkatkan daya saing di pasaran dan pendapatan petani," katanya.

Ia mengatakan, pada umumnya, orang berpikir menghasilkan padi secara melimpah sehingga suatu daerah mengalami surplus.

Namun, katanya, surplus atas produk pertanian yang sama itu mengakibatkan harga di pasar anjlok.

Ia mengatakan, petani yang cerdas menyikapi persaingan harga produksi di pasaran dengan cara menghasilkan produk unggulan.

"Gapoktan ini mulai proses hingga penjualan beras secara tertutup. Petani menanam, panen, menjemur, menggiling hingga mengemas melalui gapoktan. Penjualan diorganisir gapoktan dengan pemberian label sehingga mutunya terjamin dan harga stabil," katanya.

Ia menyatakan pentingnya petani organik memodifikasi beras misalnya melalui pencampuran beras putih dengan merah. Beras merah menyimpan kandungan gizi tinggi.

Ia mengharapkan, petani setempat mengembangkan sistem tertutup pengolahan beras organik itu untuk komoditas jagung konsumsi.

"Bukan jagung kemasan tetapi produk jagung konsumsi," katanya.