Semarang, 26/4 (ANTARA) - Perusahaan farmasi PT Phapros mengaku Antimo sampai saat ini masih tetap menjadi produk andalan dan menjadi penyumbang kontribusi terbesar dari seluruh produk yang dihasilkan.

"Antimo yang diproduksi sejak 1957 termasuk produk perdana PT Phapros dan produk yang menjadi 'backbone' (tulang punggung, red.)," kata Corporate Communication PT Phapros Imam Ariff Juliadi di Semarang, Kamis.

Hal tersebut diungkapkannya usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan di Hotel Gumaya Tower Semarang, seraya menambahkan pangsa pasar (market share) produk Antimo diperkirakan mencapai 95-96 persen.

Dibandingkan produk obat Phapros yang lain, ia menilai, Antimo sampai sekarang masih belum banyak pesaingnya untuk obat sejenis sehingga pihaknya optimistis Antimo masih tetap menjadi obat pilihan masyarakat.

Apalagi, kata dia, citra Antimo tak lagi diidentikkan sekadar obat antimabuk yang hanya berupa tablet, namun sudah dikembangkan secara luas sebagai "teman perjalanan" dan kian banyak varian Antimo dikembangkan.

Ia mengatakan, Antimo kini punya banyak varian, sampai ke kayu minyak putih. Bahkan dari 16 produk baru yang diluncurkan Phapros pada 2011, satu di antaranya merupakan varian Antimo, yakni Antimo Anak Strawbery.

Ditanya kontribusi penjualan Antimo, ia menyebutkan, dari penjualan seluruh produk Phapros pada 2011 mencapai Rp470,67 miliar, produk Antimo menyumbang sekitar Rp52 miliar dan Antimo Anak sekitar Rp10 miliar.

Sedangkan dari kategori obat peresepan, Iman menyebutkan produk Dextamine yang merupakan obat anti alergi menjadi andalan, namun pangsa pasarnya memang belum sebesar Antimo dan masih di kisaran 20 persen.

Kalau pada 2011 lalu Phapros meluncurkan 16 produk baru, dan enam di antaranya produk obat nama dagang (OND) atau "branded", lanjut Imam, pada 2012 ini rencananya akan diluncurkan sebanyak 14 produk baru.

Sementara itu, Corporate Secretary PT Phapros Emmi Mintarsih menjelaskan, Phapros saat ini memproduksi lebih dari 217 produk obat, dan 208 di antaranya merupakan obat hasil pengembangan sendiri, termasuk Antimo.

"Kami yang telah berkecimpung lebih dari enam dekade di dunia bisnis kesehatan Indonesia akan selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat dan seluruh stakeholder perusahaan," kata Emmi.

RUPS Tahunan itu, sekaligus menetapkan perubahan susunan komisaris PT Phapros, yakni Komisaris Utama Dandossi Matram menggantikan Bambang Prijono B, dan Harry Poetranto menggantikan Sugiyanto Umar sebagai komisaris.

(U.KR-ZLS/B/S006/S006) 26-04-2012 18:56:26