Semarang, 27/7 (ANTARA) - Mainan "teng-tengan", sejenis lampion khas Semarang yang bisa menampilkan bayangan berbagai binatang, tokoh pewayangan, dan sebagainya terancam punah karena mandeknya regenerasi pengrajin.

Pengrajin "teng-tengan" di Kawasan Purwosari Semarang Junarso (42), Jumat, mengakui bahwa dulunya kawasan perkampungan itu merupakan sentra kerajinan "teng-tengan" yang biasa memulai produksi saat Ramadhan dan Lebaran.

Namun, kata pria yang mewarisi bakat membuat "teng-tengan" dari Ali Tarwadi (alm) ayahnya itu, saat ini hanya dirinya yang masih setia membuat mainan khas Semarang itu, sementara warga-warga lainnya mulai setop memproduksi.

"Dulunya, banyak warga di sepanjang kampung ini yang membuat 'teng-tengan'. Biasanya, 'teng-tengan' memang dibuat hanya saat Ramadhan dan menjelang Lebaran, di luar masa-masa itu ya tidak dibikin," katanya.

Dengan dibantu tetangga-tetangganya, Junarso membuat lampion yang memiliki nama lain "damar kurung" itu setiap hari selama Ramadhan dengan kapasitas produksi rata-rata sekitar 50 buah "teng-tengan" per hari.

Ia menjelaskan bahwa proses pembuatan "teng-tengan" cukup mudah dengan bahan baku yang mudah dicari, seperti bambu untuk rangkanya, kertas minyak untuk tampilan luar, dan kertas koran untuk mencetak pola-pola gambar.

Cara kerja "teng-tengan", ketika lilin menyala akan memancarkan bayangan sesuai pola-pola gambar yang didesain, sementara uap panas lilin akan memutar baling-baling kertas sehingga bayangan nampak seperti berjalan.

"Teng-tengan" memang hanya muncul saat bulan Ramadhan, karena sering digunakan anak-anak sebagai alat penerangan saat melakukan kegiatan membangunkan sahur dan takbiran keliling kampung menjelang Lebaran.

"Teng-tengan" hasil kreasi Junarso itu dijual dengan harga Rp15-20 ribu/buah, kata dia, melalui anak-anak di sekitar daerah itu yang akan memasarkannya dari rumah ke rumah selepas pulang sekolah hingga menjelang buka puasa.

"Sudah tradisi dari dulu kalau anak-anak hingga remaja yang memasarkan 'teng-tengan' secara berkeliling. Dalam satu hari setidaknya saya bisa mendapatkan omzet penjualan 'teng-tengan' sebesar Rp250 ribu," katanya.

Mengikuti perkembangan zaman, kata dia, pola gambar "teng-tengan" kian dikembangkan, dari semula hanya menampilkan bayangan binatang dan manusia, saat ini sudah merambah motor, mobil, pesawat, dan kapal laut.

Dengan inovasi itu, Junarso mengakui bahwa sampai saat ini masih banyak permintaan terhadap "teng-tengan", tetapi dari sisi produsen justru berkurang karena pengrajin "teng-tengan" sudah tidak sebanyak dulu.

(U.KR-ZLS/B/M028/M028) 27-07-2012 13:45:01