Banyumas, 21/1 (ANTARA) - Warga Desa Kalisalak, Kecamatan Kebasen, Banyumas, menyiapkan prosesi jamasan pusaka peninggalan Raja Mataram, Amangkurat I, yang tersimpan di Langgar Jimat Kalisalak.

"Prosesi jamasan akan digelar pada Jumat (24/1) dan rencananya akan dihadiri Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Panembahan Agung (KGPH-PA) Tedjowulan dari Keraton Solo," kata juru bicara Langgar Jimat Kalisalak, Ilham Triyono, di Banyumas, Senin.

Menurut dia, prosesi jamasan yang merupakan agenda tahunan, setiap Maulud itu digelar secara sederhana tanpa kirab.

"Oleh karena hari Jumat, kami sepakat tidak menggelar kirab, agar bisa menghemat waktu," katanya.

Kendati demikian, dia mengatakan, tirakatan pada malam hari sebelum prosesi jamasan tetap digelar.

Ia mengatakan prosesi jamasan pusaka peninggalan Amangkurat I itu dimulai sekitar pukul 08.00 WIB.

"Kita melihat kondisi cuaca. Kalau sekitar pukul 08.00 WIB terlihat cerah, pusaka dapat segera dikeluarkan dari langgar karena sinar matahari merupakan salah satu alat penjamasan," katanya.

Setelah selesai dihitung dan dijamas, kata dia, pusaka-pusaka dikenal dengan sebutan Jimat Kalisalak itu dimasukkan kembali ke langgar dan dikeluarkan lagi saat prosesi jamasan saat Maulud tahun berikutnya.

Penjamasan tersebut dilakukan dengan jeruk nipis dan sinar matahari. Beberapa jimat dijamas menggunakan air yang diambil dari sumur Tegal Arum, di Slawi, Kabupaten Tegal.

Konon, Amangkurat I menggunakan air sumur Tegal Arum untuk menjamas pusakanya secara pribadi saat perjalanan ke Batavia.

Amangkurat I adalah Raja Mataram yang bertahta pada 1646-1677. Ia adalah anak Sultan Agung Hanyokrokusumo dan Raden Ayu Wetan (Kanjeng Ratu Kulon), putri keturunan Ki Juru Martani yang merupakan saudara dari Ki Ageng Pemanahan.

Sosok yang memiliki nama kecil Mas Sayidin, yang ketika menjadi putera mahkota diganti dengan gelar Pangeran Arya Mataram atau Pangeran Ario Prabu Adi Mataram tersebut berusaha untuk mempertahankan wilayah kekuasaan Kesultanan Mataram.

Amangkurat dikabarkan sempat singgah di Kalisalak, dan meninggalkan pusaka-pusaka itu agar tak membebani perjalanannya menuju Batavia. Amangkurat menuju ke Batavia untuk meminta bantuan VOC lantaran dikejar pasukan Trunojoyo yang memberontak sekitar 1676-1677.

Prosesi jamasan di Langgar Jimat Kalisalak itu selalu mendapat perhatian dari masyarakat. Masyarakat menyaksikan tradisi itu karena mereka meyakini fenomena yang muncul dalam penjamasan itu sebagai suatu pertanda zaman.

(U.KR-SMT/B/M029/M029) 21-01-2013 08:43:09