Borobudur, Jateng, 27/4 (Antara) - Masyarakat kawasan Candi Borobudur di Desa Ringin Putih, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, akan menyiapkan 100 tumpeng untuk prosesi "Sedekah Ringin Kembar" guna menghidupkan tradisi budaya "bersih desa".

"Kegiatan 'merti desa' (bersih desa, red.) itu terkait dengan agenda bersama masyarakat desa lainnya di sekitar Borobudur 'Ruwat Rawat Borobudur' selama 1,5 bulan mendatang," kata Sekretaris Panitia Ruwat Rawat Borobudur 2013 Sugeng Muslih di Borobudur, Sabtu.

Ia menjelaskan tumpeng yang secara swadaya disiapkan warga dari setiap rukun tetangga dan kepala dusun setempat itu akan diarak sejauh satu kilometer dari Balai Desa Ringin Putih menuju tempat di tepi Dusun Sriyasan.

Tempat di tepi areal persawahan yang menghubungkan Dusun Sriyasan dengan Dusun Kranggan, Desa Ringin Putih, Kecamatan Borobudur itu dipercaya warga, pernah tumbuh pohon ringin putih secara tidak kasat mata pada masa lampau.

Ia mengatakan 100 tumpeng akan diletakkan di tempat itu untuk kemudian modin dusun setempat, Dahlan (60), memimpin doa dan selanjutnya warga menyantap sajian tumpeng tersebut secara bersama-sama.

"Prosesi ini untuk doa syukur dan sekaligus meminta keselamatan masyarakat dan penghidupan yang lancar," katanya.

Sugeng yang juga Ketua Badan Perwakilan Desa Ringin Putih (sekitar 500 meter barat Candi Borobudur) itu mengatakan kegiatan serupa pada 2012 ditandai dengan penanaman pohon beringin di tempat itu.

Prosesi "Sedekah Ringin Kembar" yang ditandai dengan perarakan 100 tumpeng tersebut akan berlangsung pada 2 Juni 2013.

Ia mengatakan prosesi itu juga melibatkan ratusan warga yang tergabung dalam berbagai kelompok kesenian tradisional. Mereka akan menggunakan pakaian tarian tradisional masing-masing, seperti kuda lumping, topeng ireng, uyon-uyon, kubro siswo, sholawatan jawa, rebana, ketoprak, dan buto grasak.

"Sejumlah orang akan mengambil air dari kompleks Taman Wisata Candi Borobudur untuk dibawa ke desa guna menyiram pohon beringin yang kami tanam tahun lalu. Ini simbol perawatan terhadap upaya penghijauan yang telah kami lakukan," kata Sugeng yang juga Ketua Bidang Organisasi Warung Info Jagat Cleguk (satu komunitas Borobudur untuk upaya konservasi kawasan Candi Borobudur) itu.

Agenda budaya Ruwat Rawat Borobudur yang berlangsung tanggal 2 Mei-16 Juni 2013 kerja sama antara WIJC dengan Yayasan Soloensis itu, meliputi berbagai kegiatan di desa-desa sekitar candi tersebut, antara lain pentas kesenian tradisional, kontemporer, dan kolaborasi, sejumlah tradisi ritual masyarakat, sarasehan budaya, dan lokakarya budaya.

(U.M029/B/T. Susilo/T. Susilo) 27-04-2013 09:04:48