Semarang, 18/12 (ANTARA) - Setelah terjadinya penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan solar untuk yang kedua kalinya belum mempengaruhi tarif angkutan umum bus dan angkot di Kota Semarang, tarifnya masih menggunakan tarif lama.

Beberapa pengemudi bus antar kota antar provinsi (AKAP) dan angkutan kota (angkot) ketika dihubungi di Semarang, Kamis, menyatakan, selain turunnya tarif masih dalam penggodokan antara pemerintah dengan pihak Organda, masalah tingginya harga onderdil mobil (bus) juga menjadi pertimbangan apakah tarif akan tetap atau turun.

Penurunan harga BBM dirasa masih belum berpengaruh jika dibandingkan dengan kebutuhan onderdil (spare part) mobil yang harganya justru naik antara 10 persen hingga 30 persen, kata Kasparin, seorang sopir angkot jurusan Johar-Sampangan Kota Semarang.

Menurut dia, tarif angkutan dalam kota yang biasanya dikenakan penumpang sebesar Rp4.000 untuk jurusan Johar-Sampangan merupakan tarif yang paling kecil sedangkan untuk biaya perawatan mesinnya saja rata-rata pemilik angkot harus mengeluarkan biaya cukup besar.

Kondisi yang demikian itulah yang menyebabkan kami tetap mempertahankan tarif yang lama. Namun demikian, apabila penumpang tetap menginginkan tarif turun, kami turunkan paling sekitar 10 persen saja, katanya.
Sementara itu, Andar, supir minibus Jurusan Terboyo-Unnes-Gunungpati menyatakan, belum menurunkan tarif angkutan umum selama belum ada kepastian dari pihak Organda.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh beberapa sopir bus AKAP di Semarang bahwa penurunan tarif masih menunggu hasil keputusan antara pihak pemerintah dan Organda.

Sampai saat ini, tarif bus AKAP dari Semarang ke Yogyakarta masih berkisar Rp20.000 (untuk bus non ac) dan Rp35 ribu hingga Rp50 ribu untuk bus ber ac.

Sementara tarif angkutan bus AKAP dari semarang ke Solo untuk non ac berkisar Rp17 ribu dan ac sekitar Rp25 ribu hingga Rp30 ribu.

Terhitung mulai 15 Desember 2008 harga BBM jenis premium turun dari Rp5.500 menjadi Rp5.000 /liter, sementara solar dari Rp5.500 menjadi Rp4.800 per liter.

Sementara itu, Anis, mahasiswa Universitas Negeri Semarang mengatakan, tarif yang dikenakan oleh angkutan umum masih tetap sama, padahal harga bahan bakar jenis premium dan solar sudah mengalami penurunan.

Dia berharap, Tarif angkutan kota bisa turun seiring dengan turunnya bahan bakar premium. ***7***
(U.S011/B/M012/M012) 18-12-2008 17:15:01