Semarang, 16/5 (ANTARA) - Maestro lukis asal Bali, Nyoman Gunarsa menggelar pameran tunggal bertajuk "Opera Khayangan" di Hotel Grand, Candi Semarang, 13-17 Mei 2009.

Nyoman Gunarsa saat dihubungi dari Semarang, Sabtu mengatakan tema lukisan yang dipamerkan tentang keindahan dan kecantikan yang dipancarkan dari seorang wanita yang berpadu dengan instrumen-instrumen dalam permainan opera.

"Sebagian besar objek lukisan saya memang sosok wanita, sebab bagi saya wanita memancarkan sebuah keindahan dan kecantikan, dan kali ini saya ingin memadukan keindahan wanita dengan permainan opera yang menonjolkan komposisi semua gerakan tari lengkap dengan instrumennya," katanya.

Lukisan-lukisan yang dipamerkan itu di antaranya berjudul "Welcoming Dance", "Joged Dance", "5 Violin Dancer", dan "Opera Khayangan".

Semuanya menggambarkan sosok wanita berkostum Bali sedang menari, atau terlihat sedang memainkan alat musik tradisional seperti seruling, dan biola yang merupakan alat musik modern.

Dalam pameran yang diselenggarakan Artha Galeri Jakarta ini, pria yang sudah mengenal dunia lukis sejak 1952 itu menampilkan 58 lukisan yang semuanya beraliran ekspresif yang dituangkan dalam media cat minyak dan cat air.

"Seorang seniman sejati harus menguasai dan mampu menuangkan seluruh ide dan inspirasinya pada seluruh media lukis, tidak ada batas media yang akan digunakan," katanya.

Mengenai apresiasi masyarakat Semarang terhadap seni lukis, ia mengatakan apresiasi masyarakat di daerah ini yang merupakan kota perdagangan dan perindustrian, cukup membahagiakan.

"Hanya saja, perlu terus ditingkatkan agar Semarang menjadi kota perdagangan dan perindustrian yang berbudaya," katanya.

Pemilik Artha Galeri, Richard Lie mengatakan apresiasi masyarakat Semarang terhadap seni masih kurang, sehingga perlu digiatkan.

"Namun, saya maklum karena untuk pameran yang menampilkan pelukis sekaliber Nyoman Gunarsa baru diadakan pertama kalinya, apalagi Semarang terkenal sebagai kota industri dan perdagangan," katanya.

Berkaitan dengan jumlah lukisan yang telah terjual hingga Sabtu (16/5), ia mengatakan masih jauh dari harapan ideal sebuah pameran lukisan.

"Lukisan yang telah laku hanya 5-6 buah, dengan kisaran harga di bawah Rp100 juta," katanya.

Namun, ia mengaku tidak menyerah dengan hasil yang dicapainya dalam pameran kali ini, sebab untuk membangkitkan apresiasi masyarakat terhadap seni memang tidak mudah.

Salah satu caranya, menurut dia dengan menyelenggarakan pameran secara terus menerus.

"Rencananya kami akan kembali mengadakan pameran lukisan beraliran naturalis karya Yap Hian Tjay yang berusia 82 tahun di tempat ini pada Juli mendatang," katanya.***5***
(U.PK-ZLS/B/M008/M008) 16-05-2009 15:44:07